TIPS LULUS SELEKSI CALON GURU PENGGERAK

in , by Nida belajar, Januari 07, 2022


 

Salah satu episode dalam merdeka belajar adalah program guru penggerak. Pada saat ini sudah memasuki angkatan ke 5 untuk tahap seleksi. Bahkan sudah ada dua angkatan yang selesai menjalankan program guru penggerak.

Ada dua tahap seleksi untuk bisa ikut dalam program guru penggerak. Tahap pertama yaitu registrasi, pengisian dan penilaian biodata, dan penilaian esai. Tahap kedua penilaian simulasi mengajar dan wawancara. Maka diperlukan keinginan dan usaha untuk bisa mengikutinya.

Berikut ini beberapa tips agar bisa lulus seleksi calon guru penggerak.

Kuatkan Niat

Kuatkan niat dan tujuan untuk apa mengikuti program guru penggerak. Melalui niat yang kuat maka bagaimana pun sulitnya proses seleksi akan tetap bertahan. Ternyata tidak sedikit orang yang mundur pada seleksi tahap pertama, salah satunya karena melihat harus mengisi esai yang panjang. Selain harus kuat juga harus memiliki niat yang baik. Semoga dengan tujuan yang baik maka Tuhan memberi kelancaran untuk segala proses seleksi.

Meminta Izin Pada Keluarga

Proses pendidikan yang panjang yaitu selama sembilan bulan dan sekarang dipersingkat menjadi enam bulan tentunya akan melalui pasang surut. Perlu dukungan yang kuat dari orang-orang yang ada di sekitar terutama keluarga. Jika seorang istri maka memohon izin pada suami, begitu pula sebaliknya. Membicarakannya dengan anak-anak. bagi yang belum menikah meohon izin pada orang tua. Sekaligus memohon doa untuk kelancaran dan kelulusan seleksi. Dukungan dari keluarga dan orang-orang di sekitar kita sangat diperlukan terutama ketika mengalami masa surut, jenuh atau menghadapi masalah dalam proses pendidikan.

Baca Petunjuk secara teliti

Banyak informasi perekrutan yang sudah disampaikan baik berupa edaran dari kementrian, P4TK, bahkan dinas setempat. Bacalah informasi tersebut dengan teliti. Tandai tanggal mualai dan akhir dilaksanakan pendaftaran. Jangan sampai tertinggal pendaftaran karena salah melihat tanggal dalam informasi. Siapkan berkas-berkas yang diperlukan.

Mendaftar sesuai dengan aturan yang telah ditentukan

Pada saat proses pendaftaran seperti mengisi biodata, pastikan sudah terisi dengan lengkap dan benar sebelum mengirimkannya. Jika ada ketentuan jumlah karakter atau kata pada pengisian esai maka penuhi bahkan lebih baik dilebihkan. Isilah sesuai dengan kenyataan yang dialami karena esai akan menjadi acuan juga pada saat proses wawancara.

Pastikan berkas yang akan diupload sudah discan dengan benar, besar file tidak lebih dari 1 MB. Dokumen yang diperlukan diantaranya KTP (kartu tanda penduduk), Ijazah terakhir minimal S1/D4, SK Mengajar dan Surat izin dari pimpinan/ atasan langsung tempat bekerja sesuai dengan format yang telah disediakan. Format dapat diunduh pada laman pendaftaran.

Persiapkan untuk tes Mengajar dan Wawancara dengan biak jika lulus pada seleksi tahap berikutnya. Tips untuk tahap dua akan ditulis secara khusus.

Berdoa

Informasi yang semakin gencar dan peraturan menteri yang berubah pada hal-hal tertentu dan berkaitan dengan guru penggerak menjadikan program pendidikan guru penggerak semakin banyak peminat. Sedangkan kuota yang diberikan hanya sedikit dan secara bergilir. Tidak setiap angkatan ada di wilayah tersebut. Contohnya saja Kabupaten Cianjur kebagian angkatan 2 dan akan ada lagi diangkatan 6. Jumlah kuota yang disediakan adalah total untuk semua jenjang. Maka dari hal ini terlihat persaingan yang semakin ketat.

Usaha lain selain teknis pendaftaran, pengisian esai adalah doa. Percaya atau tidak bahwa takdir kehidupan itu ada. Maka untuk menjemput takdir yang baik, berusahalah juga dengan memohon pada sang penentu. Berdoa kepada Tuhan adalah salah satu caranya.


Selamat berjuang dan sukses untuk teman-teman yang akan mengikuti seleksi calon guru penggerak.

Persiapan Lokakarya 7

in , by Nida belajar, November 24, 2021

 

Persiapan lokakarya 7 bukan hanya ketika akan berangkat menuju lokasi namun dimulai dari beresnya lokakarya 6. Sespesial apa sebenarnya lokakarya 7 ini sehingga membutuhkan waktu persiapan yang begitu lama? Sepertinya sama spesialnya seperti kamu di hatiku cie cie, jadi ngelantur deh. Seperti yang telah dibahas dalam artikel ”Lokakarya 7 Panen Karya” bahwa acara ini bagaikan samen jika ditingkat sekolah dasar. Namanya mau menampilkan karya dalam pameran dan penampilan  tentu perlu waktu untuk latihan dan mempersiapkan rancangan dekorasi, serta mempersembahkan yang terbaik.

Persiapan yang dilakukan untuk pameran hanya menyiapkan desain barner, menuliskan apa saja yang akan dibawa dan ditampilkan. Sesimpel itu tapi diskusinya cukup menghabiskan waktu yang lama. Hingga membutuhkan beberapa kali pertemuan baik online ataupun offline. Maklumlah seluruh anggota kami semuanya ibu-ibu, hanya pendamping penggerak yang bapak-bapak hahaha. Bisa dibayangkan riwehnya kelompok kami.

Tiap kali kumpul, bahasannya sih gak seberapa tapi diskusinya, debatnya yang bikin lama,. belum lagi sesi makan-makannya. Pernah suatu kali ketika akan diskusi tapi perut lapar, alhasil ngebaso dulu, ngerujak dulu, ngemil dulu baru deh mulai bikin konsep. Apalagi ketika membuat rekorder untuk kabaret, ditambahin sesi ketawa yang gak beres-beres.

Oh iya jadi inget kabaret. Jadi kelompok kami akan mempersembahkan kabaret diacara hiburan lokakarya 7 tapi ternyata tidak jadi ditampilkan. Tidak apa lah mungkin ini yang terbaik menurut Tuhan. Biarlah proses pembuatan kabaret yang cukup lama dan berliku menjadi pelajaran bagi kami. Bisa dibayangkan kabaret yang akan ditampilkan hanya berdurasi lima menit. Iya lima menit, kaya di iklan makanan jatuh “Belum lima menit, nyam-nyam”. Apa yang kalian pikirkan? Begitu singkat bukan. Sesingkat itu harus memuat perjalanan pendidikan kami selama enam bulan. Iya enam bulan dirangkum dalam lima menit. Seru deh pokoknya.

Singkat cerita rekaman pun selesai. Rekaman untuk kabaret lima menit membutuhkan proses pembuatan lebih dari lima jam. Begitulah kehidupan, lebih banyak dramanya dari pada aksinya. Kami sukses dan berhasil mempersiapkan kabaret luar biasa walaupun tak jadi ditampilkan. Kami bahagia bisa berproses karena dibalik pembuatan kabaret itulah hikmah bertebaran. Silaturahmi terjalin dengan baik, pertemanan yang semakin akrab, curhat, ngobrol, makan, ketawa-ketiwi. Yah begitulah kalau ibu-ibu kumpul.

Kalau ibu-ibu kumpul pasti ada yang selalu ikutan, apa coba? Itu dia makanan. Tak pernah kekurangan makanan kalau lagi kumpul. Penyedia tempat selalu menyediakan dengan makanannya, belum lagi yang dibawa sama perorangan. Bahkan Bapak PP juga ikut bawa makanan yang dibagikan ke CGP nya kalau kumpul. Baik hati sekali Bapak PP kami, juga sabar menghadapi ibu-ibu yang riweh ini.

Sampailah pada waktu lokakarya 7 tiba. Kami berangkat dengan dua mobil. Satu mobil dipenuhi barang dan hanya memuat dua orang. Di mobil satu lagi kami berkumpul. Ada seorang teman yang tidak berangkat bareng karena harus menyelesaikan kepentingannya dulu. Bukan ibu-ibu namanya kalau di jalan gak ada cerita. Padahal perjalanannya gak jauh-jauh amat, Cuma dari Ciranjang ke Cipanas. Satu jam juga sudah sampai, bahkan kurang.

Setelah semuanya berkumpul, berangkatlah kami, konvoi ceritanya. Beberapa menit mobil melaju 

“Ada yang belum dapet nih barangnya, katanya ada di sana, coba deh cari di google map,” ujar seorang teman.

“ Ada nih, tar belok di depan. Deket kok gak sampe sekilo,” jawabku.

“Ayo kita ke sana dulu,” jawab pemilik kendaraan.


Mobil pun berbelok dan melaju ke tempat tujuan. Wah indahnya pemandangan di sana. Foto-foto dulu lah kami dengan pose andalan. Akhirnya sesuatu yang dicari pun dapat dengan usaha yang cukup berliku. Sampe harus naik gunung, salah orang, ngebujuk rayu dan ditegur karena melanggar.


Pesan di grup pun bertaburan karena mereka kehilangan kami yang tak kunjung datang. Bahkan sampe keduluan sama temen yang berangkat menyusul. Mana jalan cukup macet juga entah karena apa. Mereka semua heran karena memang yang ada di mobil kami tidak memberitahu dulu bahwa akan mencari sesuatu. Semua dadakan di jalan dan dikira dekat padahal ternyata cukup jauh.

Jika penasasran kami ke mana dan mencari apa, bisik-bisik aja ya di belakang layar karena ini rahasia hehehe.



Sampailah kami di hotel. Seperti biasa prosedur kesehatan cek suhu, kartu vaksin dan sweb. Cukup lama kami menunggu hingga akhirnya mendapatkan kamar dan memasuki kelas untuk memulai lokakarya. Ada sedikit  tragedi kamar yang dibahas pada bagian cerita lain.

Siang hari hingga sore kami mengikuti kelas. Jam delapan malam barulah kami mulai mendekor stan. Berhubung semuanya ibu-ibu jadi kami harus kuat untuk mengangkut semua barang-barang, memasang barner-barner, menempelkan lampu dan hisan, memasang taplak meja. Senang sekali ketika aku hanya diberi tugas untuk duduk di kursi dan temanku menaikinya sambil memasang lampu. Hidup ini kadang tugas kita begitu mudahnya, tapi indahnya kerjasama gak ada yang iri walaupun tugasku cuma duduk haha.



Tak lupa kami ucapkan juga terimakasih untuk bapa-bapak kelompok sebelah yang masih satu fasilitator. Mereka ikut membantu kami dengan senang hati. Ternyata jadi wonder women saja tidak cukup, tetap perlu ada bantuan tangan laki-laki.  

Saking banyaknya barang kami sehingga tidak cukup hanya sebalik untuk memindahkan dari kamar ke tempat pameran. Ada saja beberapa barang yang tertinggal. Kami pun bergantian untuk membawanya. Giliran aku yang mengambil barang dan seorang teman. Saking lelahnya kami memilih untuk naik lift. Dari mulai turun pun kami sudah berdebat harus ke lantai berapa, diantara kami tidak ada yang tahu kamar nya lantai berapa. Bangunan hotel yang cukup bagus dengan denah yang cukup unik sehingga membuat pengunjung yang kampungan ini ribet. Betapa tidak ternyata kami harus berputar-putar karena tersesat mencari kamar. Belum lagi urutan kamar hotel yang sama semua, tiap lantai bentuknya sama. Petunjuk kami hanya nomer kamar.

“Kita harus naik lagi satu lantai bu,” ujar teman kami. Jadi pada saat itu kami bertiga di lift dengan tujuan yang sama yaitu kamar.

“Masa, eh iya, ayo naik lagi,” jawabku, “ini kan yang tadi, berarti kita turun lagi.”

Turun lagi lah kita.

“Nah sepertinya kita harus turun satu tangga lagi,” ujarnya.

“duh bingung deh, hahaha”

“hahahaha”

“cape ketawa, yang ini bener kamarnya ke sini,” jawabku.

Perjuangan mencari kamar aja udah harus naik turun tangga beberapa kali, padahal tujuan utama naik lift biar gak cape pake tangga. Namun sepertinya memang naik lift bikin otak linglung. Bayangkan saja, kejadian ini gak terjadi cuma sekali tapi beberapa kali, kebingungan mencari kamar gara-gara naik lift.Sepertiya harus jadi cerpen tersendiri.

Acara mendekorasi stan berakhir sampai tengah malam. Beres tidak beres dianggap saja selesai. Kami semua diharuskan untuk beristirahat untuk kegiatan esok hari. Selesainya acara mendekor dengan segala keriwehannya, maka beres juga cerita ini. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

EMPATI

in , by Nida belajar, November 20, 2021

 

 Sumber Gambar: Pexels.com


“Yang tertusuk padamu, terluka padaku”

(Sutardji Calzoum bachri)

Masih tentang lokakarya 7 yang menyisakan cerita sebagai pembelajaran hidup.  Cerita diawali dari sebuah kamar hotel. Acara lokakarya 7 ketika itu diselenggarakan di hotel Palace- Cianjur. Rangkaian acara dimulai dengan sesi kelas pada jam 14.00 WIB. Peserta sudah mulai datang dari pagi hari. Barang bawaan setiap peserta seperti mau pindahan rumah, walaupun hanya menginap satu malam tapi persiapannya sudah dari satu bulan.

Ternyata tidak semudah seperti di film untuk memasuki kamar hotel, apalagi ini dalam sebuah acara. Kami harus menunggu lama untuk sekedar memperoleh kunci kamar. Usut punya usut panitia pun kewalahan dalam hal pembagian kamar. Terpaksa mereka mengambil opsi cepat dengan menyediakan dua kamar untuk setiap kelompok dengan alasan agar barang-barang kami bisa aman di dalam. Sebelum acara dimulai, setiap kelompok membereskan barangnya ke kamarnya masing-masing.

Di luar dugaan, kamar yang sebelumnya dibagikan ternyata tidak sesuai dengan catatan yang ada sehingga harus dirubah. Selesai acara di kelas, sore hari menjelang maghrib setiap peserta diberi kunci kamar dan dipastikan semuanya sudah kebagian dengan kaapsitas dua orang perkamar. Ternyata nomer kamarnya berbeda dengan yang semula. Alhasil, barang bawaan yang seperti mau pindahan rumah itu harus dipindahkan lagi.

Kami hanya bisa menghela nafas panjang menerima keputusan yang ada. Sudah seharusnya kami saling memaklumi karena yakin panitia pun sudah berusaha semaksimal mungkin. Hanya saja masalah akan selalu ada di luar dugaan manusia.

Betapa kagetnya ketika memasuki kamar  ternyata sudah ada dua orang bapak-bapak yang akan menempati kamar tersebut. Entah siapa bapak-bapak itu tapi mereka memberikan kami pelajaran hidup yang sangat berharga.

Di tengah lelahnya kami yang sudah menunggu dari pagi, mempersiapkan barang-barang sejak kemarin, dan menjalani kelas, masih harus memindahkan barang. Dengan santainya dua orang Bapak tadi tidur sambil memainkan HP di atas kasur yang empuk tanpa mempedulikan kami yang lalu-lalang mengeluarkan barang-barang. Hanya orang buta hati yang tidak bisa menilai kalau melihat kejadian itu bukan suatu masalah moral.

Empati, itu mungkin salah satu yang tidak dimiliki Bapak-bapak tadi. Entah apa yang ada dipikiran mereka karena kami bukan seorang paranormal yang bisa menebak, tapi minimal ada ucapan pada kami kalau kata orang sunda sasadu. Secara etika mereka juga sudah tidak sopan karena masuk kamar tanpa izin walaupun itu sudah menjadi hak nya, setidaknya memberikan kami waktu untuk mengeluarkan barang sebelum mereka masuk.

Jika saja ada barang kami yang hilang tentu siapa lagi yang akan disalahkan kalau bukan mereka. Untung saja itu tidak terjadi maka mereka selamat dari gugatan emak-emak hahaha. Hanya saja tetap mereka jadi trending topik pembicaraan di kelompok kami. Hal yang paling kami garis bawahi adalah pelajaran dari pendidikan guru penggerak belum tercermin dalam pribadi bapak-bapak tadi maka kami bertekad untuk menerapkan segala pemebelajaran pada diri sendiri terlebih dahulu sebelum ke orang lain apalagi murid.

Sebuah ungkapan bahwa pengalaman adalah guru terbaik sangat benar adanya. Hal pertama yang harus diterapkan adalah ilmu dari program pendidikan guru penggerak bukan hanya untuk dipahami dan diterapkan pada murid tapi praktekanlah dulu pada diri sendiri.

Pada saat itu juga kami sudah mencoba menerapkannya. Salah satunya teknik pengendalian diri yang dipelajari di modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional. Kami berusaha sewaras mungkin mencoba untuk tidak marah pada mereka. Walaupun menyisakan rasa kesal pada diri kami yang mengalaminya pada saat itu. hanya saja mohon maaf jika kisah itu diangkat dalam cerita ini, semata-mata kami hanya saling mengingatkan tentang makna ilmu yang telah diperoleh.

LOKAKARYA 7 – PANEN KARYA

in , by Nida belajar, November 20, 2021

 


Salah satu rangkaian kegiatan dari program pendidikan guru penggerak adalah lokakarya yang diadakan setiap satu bulan sekali. Secara keseluruhan ada sembilan kali lokakarya, namun ada satu yang sepesial. Kegiatan spesial ada pada lokakarya 7. Menjadi spesial karena adanya panen karya.  Bisa dikatakan kegiatan di lokkarya 7 merupakan semi puncak dari seluruh rangkaian program pendidikan guru penggerak. Jika di sekolah ada acara samen (pentas kreasi siswa) maka di program guru penggerak ada panen karya.

Lokakarya 7 pendidikan calon guru penggerak angkatan 2 kabupaten Cianjur dilaksanakan pada tanggal 13-14 November 2021, bertempat di hotel Palace Cipanas- Cianjur. Tamu undangan yang hadir adalah para kepala sekolah dari masing-masing CGP (Calon guru penggerak), ketua yayasan, sekertaris dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Cianjur, perwakilan dari P4TK TK/PLB, para pengawas pendidikan dan komunitas praktisi.

Panen karya merupakan kumpulan hasil tugas-tugas selama menjalani pendidikan di program guru penggerak. Seluruh karya yang dibuat diperlihatkan pada lokakarya 7. Bisa dibayangkan betapa banyak hasil karya yang harus dipajangkan. Pendidikan yang sudah dilalui selama enam bulan dengan alur belajar MERRDEKA tentu saja menghasilkan banyak karya. Selain panen hasil karya juga ditampilkan kreasi seni untuk menghibur para tamu undangan.

 


Ruangan aula besar ditata menyerupai pameran yang di depannya ada panggung utama. Stan pameran dibagi perkelompok pengajar penggerak. Di stan inilah karya-karya CGP dipamerkan. Banyak sekali  banner berisi program-program yang telah dilaksanakan. Bahkan hasil karya murid dari program tersebut atau produk CGP dipamerkan.

Salah satunya di tempat saya sendiri yaitu stand PP 35. Nama stand diambil dari nomer PP, sedangkan nama Pengajar penggerak kami adalah Bapak Hendri Kurniadi, M.Pd. anggota kelompok kami semuanya tediri dari para wanita-wanita tangguh yang berjumlah delapan orang yaitu empat orang guru TK/PAUD, tiga orang guru SD dan satu orang guru SMP.

Secara garis besar program yang kelompok kami laksanakan terdiri dari dua bidang yaitu pertanian dan literasi. Program pertanian diantaranya gerakan menata lingkungan sekolah, memanfaatkan lahan sekolah dengan tanaman sayur dan buah, tanaman obat keluarga, ecobreak. Program literasi diantaranya membuat pojok pintar, Lolipop (lomba literasi populer), BBC (Baca buku cerita), magic book.

Acara dimulai dengan penampilan hiburan dari CGP, Ada nyanyi, pembacaan puisi, tarian. Penyambutan tamu undangan dengan adat sunda yaitu upacara adat dengan mneggunakan lengser dan persembahan penampilan angklung dari SDN Cimacan. Berikutnya sambutan-sambutan dan acara puncaknya yaitu pemaparan praktik baik perwakilan dari setiap kelompok PP.

Kemeriahan acara sungguh sangat terasa, dimulai dari dekorasi ruangan yang ditampilkan sangat menarik. Setiap stan mendekorasi tempatnya dengan sangat spesial berdasarkan tema-tema yang ditentukan. Ada yang BATIK, pertanian, lukisan pasir, literasi dan masih banyak lagi. Bahkan pakaian yang digunakan oleh para CGP pun disesuaikan dengan temanya. Ada yang menggunakan pakaian adat sunda, batik, jas dan lain sebagainya.

Aura kebahagiaan juga terpancar dari setiap CGP. Walaupun lelah, kurang tidur namun tetap semangat mempersiapkan dan menjalani rangkaian kegiatan. Perjalanan panjang pendidikan terbayar sudah dengan segala bentuk tampilan karya yang diapresiasi oleh pihak-pihak terkait. Juga menjadi inspirasi dan referensi untuk kepala sekolah dan teman-teman guru lainnya.


Program Membangun Budaya Literasi Di Sekolah

in , by Nida belajar, Oktober 17, 2021

 A.     Latar Belakang

Semakin pesatnya perkembangan tekhnologi maka menuntut murid sekolah dasar lebih paham terhadap IT. Terlihat dari adanya program asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) yang telah gencar diluncurkan oleh kementrian pendidikan. Bukan hanya penguasaan terhadap IT tetapi instrumen yang digunakan berbasis literasi dan numerasi. Oleh sebab itulah kompetensi literasi dan numerasi pada murid SD harus ditingkatkan.

Pembelajaran tatap muka yang mulai dilaksanakan memerlukan adaptasi yang baru. Program pembelajaran tatap muka haruslah sejalan dengan ANBK sebagai salah satu tolak ukur serta keberpihakan pada murid yaitu kebutuhan dan kesenangannya. Juga menyesuaikan dengan Visi SDN Babakancaringin 1 yaitu berakhlak mulia, unggul dalam Literasi. Salah satu budaya yang harus dibangun adalah literasi di sekolah. Untuk memulai literasi dengan semangat dan gairah baru maka dilaksanakan program membangun literasi di sekolah. Program ini terdiri dari dua kegiatan yaitu LOLIPOP (Lomba Literasi Populer) dan untuk membangun literasi di kelas dengan membuat Pojok Pintar.

Tujuan program membangun budaya literasi di sekolah adalah membiasakan murid untuk senang dalam membaca, menulis, dan menghitung. Mendorong murid untuk semangat dalam belajar dan berkarya. Serta membentuk karakter murid.

B. PELAKSANAAN

LOLIPOP (Lomba Literasi Populer) baru akan dilaksanakan tanggal 18 sd 23 Oktober 2021. Pada saat ini masih dalam proses persiapan. Persiapan yang dilakukan dimulai dari berkoordinasi dengan kepala sekolah dan dewan guru pada rapat sekolah. Penyebaran informasi dan menyiapkan peralatan serta hadiah lomba.

Reaksi murid pada saat diberitahukan tentang akan dilaksanakannya LOLIPOP sangat senang dan bersemangat. 

POJOK PINTAR

Pojok pintar merupakan tempat di sudut kelas yang didesain sedemikian rupa sebagai wadah murid berekspresi. Di Pojok Pintar disediakan papan karya, mading, buku-buku cerita dan warung kejujuran. Tahap pembuatan Pojok Pintar dimulai dari membuat rancangan bersama murid. Murid berdiskusi secara berkelompok untuk membuat kelas yang nyaman. 

Murid memaparkan hasil diskusinya di depan kelas.

Mengambil kesimpulan dan membuat kesepakatan dari rancangan yang sudah dibuat. Pada proses ini cukup sulit dalam penentuannya karena imajinasi murid dalam merancang kelas butuh dana besar untuk mewujudkannya. Seperti ingin memasang AC di dalam kelas, ada toilet yang pintunya dari kelas. Setelah diskusi yang cukup lama maka dputuskan membuat pojok pintar untuk menampung semua keinginan murid.
Hasilnya murid sepakat untuk memanfaatkan aset kelas yang sudah ada dalam membuat Pojok Pintar. Sebelum proses pembuatan, murid merapikan kelas bersama-sama.
Pembagian tugas mereka lakukan sendiri. Anak laki-laki mengerjakan pekerjaan yang berat sedangkan anak perempuan membuat kreasi untuk pojok pintar. Di luar dugaan ada seorang anak laki-laki yang sangat antusias dan berinisiatif untuk membuat kreasi sendiri. Dia sudah menyiapkan segala bahnnya dari rumah, kreasinya hanya tinggal dipasangkan di jendela kelas.

C.     Hasil Aksi Nyata

LOLIPOP baru akan dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2021. Pojok Pintar sudah jadi sekitar 70%.

Melihat semangat murid dan antusiasnya dalam merubah kelas dan menanti lomba tentu sangatlah senang. Ada saja sekelompok murid yang masih malas-malasan terlihat dari raut muka dan gairhnya dalam belajar. Melihat hal ini tentusaja masih menjadi PR untuk memperaikinya.

D.     Kekurangan dan Kelebihan

LOLIPOP belum terlihat apa yang menjadi kekurangan dan kelebihannya.
Pojok Pintar terlihat kelebihan yaitu murid semangat dalam mengerjakan. Hambatan dalam menyelesaikan
Pojok Pintar yaitu pengadaan rak buku. Semula murid sudah semangat unntuk membuatnya dari kardus.
Setelah dicoba ternyata kardus tidak kuat untuk menahan berat buku. Hal lain yang berpengaruh adalah ketua
tim. Ketika ketua tim sakit maka pengerjaan pun sempat terhenti.

 

E.     Rencana masa depan

      Pada tahap selanjutnya adalah pelaksanaan LOLIPOP. Berharap setelah lomba ini berlangsung maka murid menjadi antusias untuk membiasakan diri dalam membaca dan berkarya. Bahkan karena sekolah masih minim sumber bacaan akan disiasati dengan sumber bacaan elektronik dengan akses menggunakan barkode.
      Kegiatan pembuatan Pojok Pintar masih harus dilanjutkan dan diselesaikan hingga dapat digunakan oleh murid. Kekurangan pada proses sebelumnya adalah terkendala bahan dan alat. Ke depan akan melibatkan orang tua murid untuk bekerjasama membuat rak buku walaupun dari barang bekas. Jika sebelumnya orang tua hanya memberikan dorongan secara moril maka nanti diharapkan langsung terjun membantu murid.

      Program tidak berhenti saat Pojok Pintar selesai dibuat dan LOLIPOP sudah terlaksana. Justru inilah awal dari terbiasanya pada kegiatan literasi. Pojok Pintar akan memancing murid untuk selalu berkarya. Kebiasaannya dalam membuat kalimat dan membaca juga dipublikasikan di mading pojok pintar atau pada papan karya. Berharap semoga Karakter baik murid dapat terbentuk dari adanya wadah dan kegiatan pojok pintar yang diberikan.

 

 





RANCANGAN PROGRAM MEMBANGUN BUDAYA LITERASI DI SEKOLAH

in , by Nida belajar, Oktober 17, 2021

 


Latar Belakang Program

Semakin pesatnya perkembangan tekhnologi maka menuntut murid sekolah dasar lebih paham terhadap IT. Terlihat dari adanya program asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) yang telah gencar diluncurkan oleh kementrian pendidikan. Bukan hanya penguasaan terhadap IT tetapi instrumen yang digunakan berbasis literasi dan numerasi. Oleh sebab itulah kompetensi literasi dan numerasi pada murid SD harus ditingkatkan.

Pembelajaran tatap muka yang mulai dilaksanakan memerlukan adaptasi yang baru. Program pembelajaran tatap muka haruslah sejalan dengan ANBK sebagai salah satu tolak ukur serta keberpihakan pada murid yaitu kebutuhan dan kesenangannya. Juga menyesuaikan dengan Visi SDN Babakancaringin 1 yaitu berakhlak mulia, unggul dalam Literasi. Salah satu budaya yang harus dibangun adalah literasi di sekolah. Untuk memulai literasi dengan semangat dan gairah baru maka dilaksanakan program membangun literasi di sekolah. Program ini terdiri dari dua kegiatan yaitu LOLIPOP (Lomba Literasi Populer) dan untuk membangun literasi di kelas dengan membuat Pojok Pintar. Selanjutnya diharapkan pada setiap kelas dapat menerapkan membaca dan menulis cerita secara rutin.

 

Tujuan

Tujuan program membangun budaya literasi di sekolah adalah

·        Membiasakan murid untuk senang dalam membaca, menulis, dan menghitung.

·        Mendorong murid untuk semangat dalam belajar dan berkarya.

·        Membentuk karakter murid

 

Rancangan Program

Tahapan BAGJA

Panduan Tahapan

Hasil Tahapan

B-uat Pertanyaan

 Apa yang bisa dilakukan untuk

mewujudkan budaya literasi di

sekolah?

 Bagaimana mewujudkan budaya

literasi di sekolah?

           Menggali kegemaran murid.

          Melibatkan murid, guru, kepala sekolah dan orang tua.

          Menggunakan aset sekolah yang telah dimiliki.

A-mbil Pelajaran

    Apa pengalaman yang membuat murid tertarik dengan literasi?

          Murid tertarik ketika guru membacakan buku di depan kelas.

           Murid senang dengan kegiatan permainan yang menantang. Seperti lomba-lomba yang pernah diadakan sekolah.

G-ali Mimpi

         Budaya literasi apa yang dibayangkan ada pada diri murid?

          Prilaku apa saja yang ada pada murid dengan budaya literasi?

          Prilaku guru seperti apa yang mendorong budaya literasi murid?

          Prilaku kepala sekolah seperti apa yang mendorong budaya literasi pada diri murid?

           Hal apa saja yang perlu dimiliki untuk meningkatkan budaya literasi murid?

           Murid yang senang membaca dan mampu memahami bacaannya.

           Prilaku yang gemar belajar, kreatif, bernalar kritis.

           Guru harus memberi teladan dalam gemar literasi. Minimal mau ikut membaca buku.

           Kepala sekolah yang memberi teladan dan dorongan baik secara materil atau pun non materil.

           Bahan bacaan, semangat guru.

 

J-abarkan Rencana

           Rencana apa yang perlu dilakukan?

        Bagaimana memonitor dan mengevaluasi rencana tersebut?

        Program ini perlu adanya kerjasama dari semua pihak. Perlu adanya koordinasi terlebih dahulu. Membuat rancangan permainan atau lomba yang menarik bagi murid.

           Membuat suasana kelas menjadi menyenangkan, membuat murid semangat belajar dan berkarya.

           Monitor dilakukan oleh guru pembina. Evaluasi melibatkan guru lain, kepala sekolah dan orang tua.

A-tur Eksekusi

           Siapa saja yang terlibat dan tugasnya?

           Apa saja tahapan yang akan dilakukan?

           Kapan pelaksanaan /jadwal program?

        Bagaimana cara koordinasi yang dilakukan tim?

           Kepala sekolah sebagai penanggung jawab. Guru sebagai pengatur/ koordinator acara. Murid sebagai pelaksana. Orang tua dan masyarakat sebagai pemberi dukungan.

         Tahapan yang dilakukan dimulai dengan melakukan koordinasi, sosialisasi, persiapan dan pelaksanaan. Tidak lupa evaluasi.

    Setelah tahap koordinasi selesai maka secepatnya melaksanakan sosialisasi dan persiapan. Pelaksanaan diperkirakan dilaksanakan pada akhir bulan oktober.

      Kordinasi dilakukan dengan cara rapat kepala sekolah dan guru.

Lini Masa Tindakan yang Akan Dilakukan

POJOK PINTAR

Pojok pintar merupakan program pada aksi nyata 3.2 sehingga sudah berjalan sebelum perencanaan ini dibuat.

·         Bulan September akhir guru sudahmengkordinasikan dengan murid dan murid mulai membuat rancangan kelas.

·         Awal bulan Oktober mulai mengerjakan program.

 

LOLIPOP

Minggu ke-1 : Merencanakan Program dan berkordinasi dengan kepala sekolah beserta dewan guru

Minggu ke-2 : Persiapan LOLIPO

Minggu ke-3 : Pelaksanaan LOLIPOP

Minggu ke-4 : Evaluasi dan Pelaporan

 

Dukungan yang Dibutuhkan

·         Kepala sekolah, guru-guru, orang tua murid

·         Guru Penggerak dan pendamping penggerak

·         Finansial/dana

·         Buku-buku non pelajaran


© NIDA BELAJAR · THEME BY WATDESIGNEXPRESS