EMPATI

in , by Nida belajar, November 20, 2021

 

 Sumber Gambar: Pexels.com


“Yang tertusuk padamu, terluka padaku”

(Sutardji Calzoum bachri)

Masih tentang lokakarya 7 yang menyisakan cerita sebagai pembelajaran hidup.  Cerita diawali dari sebuah kamar hotel. Acara lokakarya 7 ketika itu diselenggarakan di hotel Palace- Cianjur. Rangkaian acara dimulai dengan sesi kelas pada jam 14.00 WIB. Peserta sudah mulai datang dari pagi hari. Barang bawaan setiap peserta seperti mau pindahan rumah, walaupun hanya menginap satu malam tapi persiapannya sudah dari satu bulan.

Ternyata tidak semudah seperti di film untuk memasuki kamar hotel, apalagi ini dalam sebuah acara. Kami harus menunggu lama untuk sekedar memperoleh kunci kamar. Usut punya usut panitia pun kewalahan dalam hal pembagian kamar. Terpaksa mereka mengambil opsi cepat dengan menyediakan dua kamar untuk setiap kelompok dengan alasan agar barang-barang kami bisa aman di dalam. Sebelum acara dimulai, setiap kelompok membereskan barangnya ke kamarnya masing-masing.

Di luar dugaan, kamar yang sebelumnya dibagikan ternyata tidak sesuai dengan catatan yang ada sehingga harus dirubah. Selesai acara di kelas, sore hari menjelang maghrib setiap peserta diberi kunci kamar dan dipastikan semuanya sudah kebagian dengan kaapsitas dua orang perkamar. Ternyata nomer kamarnya berbeda dengan yang semula. Alhasil, barang bawaan yang seperti mau pindahan rumah itu harus dipindahkan lagi.

Kami hanya bisa menghela nafas panjang menerima keputusan yang ada. Sudah seharusnya kami saling memaklumi karena yakin panitia pun sudah berusaha semaksimal mungkin. Hanya saja masalah akan selalu ada di luar dugaan manusia.

Betapa kagetnya ketika memasuki kamar  ternyata sudah ada dua orang bapak-bapak yang akan menempati kamar tersebut. Entah siapa bapak-bapak itu tapi mereka memberikan kami pelajaran hidup yang sangat berharga.

Di tengah lelahnya kami yang sudah menunggu dari pagi, mempersiapkan barang-barang sejak kemarin, dan menjalani kelas, masih harus memindahkan barang. Dengan santainya dua orang Bapak tadi tidur sambil memainkan HP di atas kasur yang empuk tanpa mempedulikan kami yang lalu-lalang mengeluarkan barang-barang. Hanya orang buta hati yang tidak bisa menilai kalau melihat kejadian itu bukan suatu masalah moral.

Empati, itu mungkin salah satu yang tidak dimiliki Bapak-bapak tadi. Entah apa yang ada dipikiran mereka karena kami bukan seorang paranormal yang bisa menebak, tapi minimal ada ucapan pada kami kalau kata orang sunda sasadu. Secara etika mereka juga sudah tidak sopan karena masuk kamar tanpa izin walaupun itu sudah menjadi hak nya, setidaknya memberikan kami waktu untuk mengeluarkan barang sebelum mereka masuk.

Jika saja ada barang kami yang hilang tentu siapa lagi yang akan disalahkan kalau bukan mereka. Untung saja itu tidak terjadi maka mereka selamat dari gugatan emak-emak hahaha. Hanya saja tetap mereka jadi trending topik pembicaraan di kelompok kami. Hal yang paling kami garis bawahi adalah pelajaran dari pendidikan guru penggerak belum tercermin dalam pribadi bapak-bapak tadi maka kami bertekad untuk menerapkan segala pemebelajaran pada diri sendiri terlebih dahulu sebelum ke orang lain apalagi murid.

Sebuah ungkapan bahwa pengalaman adalah guru terbaik sangat benar adanya. Hal pertama yang harus diterapkan adalah ilmu dari program pendidikan guru penggerak bukan hanya untuk dipahami dan diterapkan pada murid tapi praktekanlah dulu pada diri sendiri.

Pada saat itu juga kami sudah mencoba menerapkannya. Salah satunya teknik pengendalian diri yang dipelajari di modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional. Kami berusaha sewaras mungkin mencoba untuk tidak marah pada mereka. Walaupun menyisakan rasa kesal pada diri kami yang mengalaminya pada saat itu. hanya saja mohon maaf jika kisah itu diangkat dalam cerita ini, semata-mata kami hanya saling mengingatkan tentang makna ilmu yang telah diperoleh.

SHARE 3 comments

Add your comment

© NIDA BELAJAR · THEME BY WATDESIGNEXPRESS